in Artikel
16. 05. 19
posted by: Administrator
Single Mom

Pernikahan Kristen menjunjung tinggi pernikahan monogami sampai maut memisahkan. Akibatnya orang langsung mencibir ketika mendengar kisah seorang single parent yang membesarkan anak tanpa orang tua lengkap, apalagi jika disebabkan oleh perceraian. Namun, tidak bisa dipungkiri terjadi situasi dalam pernikahan Kristiani yang berakhir dengan perpisahan. Dampak terbesar dialami oleh pasangan yang ditinggalkan. Di balik itu, terdapat dampak terselubung yang jarang disadari terletak pada psikologis sang anak. Usia anak yang lebih kecil membuat orang tua merasa bahwa anak tidak perlu tahu apa-apa sehingga anak tumbuh dalam kebingungan tanpa mendapatkan jawaban yang memuaskannya sehingga memunculkan kemarahan dalam menjalani hidup. Akibat lainnya dapat mempengaruhi relasi dengan orang lain.

Ada dua situasi utama yang membuat orang tua tidak lengkap, yaitu salah satu orang tua meninggal atau terjadi perpisahan.

Read More
in Artikel
16. 05. 11
posted by: Administrator
Happy Family

Bagaimana respons Anda ketika melihat iklan investasi? Bagi yang berminat maka akan terus mempelajarinya dan bersemangat untuk bergabung. Investasi saat ini memang menjadi salah satu pilihan untuk mendapatkan hasil yang lebih besar di masa mendatang dengan menanamkan dana atau benda.

Namun ada investasi mudah yang dapat memberikan keuntungan sangat besar yang sering diabaikan, yaitu dengan MENGINVESTASIKAN KELUARGA. Sadarkah Anda bahwa diri Anda menjadi ‘penanam modal’ bagi keluarga Anda nantinya? Rumah tangga Anda saat ini adalah pusat pengajaran bagi anak untuk menjadi orang tua dan membentuk keluarga selanjutnya.

Read More
in Artikel
16. 03. 01
posted by: Administrator
Karakter emosi di dalam film inside out

Ketika film Inside Out dirilis dan ditayangkan di AMC Manchester pada pertengahan Juni 2015, beberapa teman sekelas saya, yang sebagian besar adalah pendidik di negaranya masing-masing, mengajak saya untuk menonton film ini. Awalnya saya ragu untuk menerima ajakan tersebut karena ada data penelitian yang harus saya olah dan deadline disertasi saya semakin dekat, namun karena tiket sudah terlanjur dibelikan oleh salah satu teman saya maka saya “terpaksa” ikut menonton - salah satu keterpaksaan yang luar biasa menyenangkan karena film ini mengajarkan saya banyak hal berharga.

Inside Out menceritakan tentang lima tipe emosi yang ada di dalam kepala Riley, seorang anak yang harus pindah dari Minnesota ke California karena pekerjaan ayahnya: Joy (sukacita), Sadness (Kesedihan), Anger (Kemarahan), Fear (Ketakutan), dan Disgust (Kejijikan). Lima emosi ini memberikan gambaran sederhana bagaimana emosi bekerja dalam diri anak berusia 11 tahun yang harus menghadapi tantangan dan perubahan besar dalam hidupnya. Di film kita disuguhkan bagaimana Joy dengan sekuat tenaga berusaha untuk mengontrol pikiran Riley dan menjaga supaya dia terus bahagia dan berusaha menjauhkan emosi lainnya, terutama Sadness, mengambil alih pikiran Riley.

Read More
in Artikel
15. 12. 05
posted by: Administrator
Kecanduan smartphone

Perkembangan teknologi berhasil menciptakan berbagai gadget yang sangat menarik. Telepon seluler dan komputer tablet bukanlah barang asing bagi sebagian besar kita. Bahkan anak-anak kecil di bawah 3 tahun juga sudah bergaul akrab dengannya.

Suatu kali, penulis mengantri di sebuah bank. Di sana ada sepasang suami istri bersama putranya yang berusia sekitar 3 tahun. Anak ini begitu lancar mengakses berbagai game yang ada di dalam 2 (dua) ponsel orang tuanya. Anak tidak rewel sekalipun harus antri cukup lama. Di antara kita mungkin juga memiliki pengalaman sedemikian. Anak-anak usia dini sering kali “merepotkan” sang mama yang sibuk memasak. Supaya tidak mengganggu, si anak diberikan tontonan acara televisi, memainkan game yang ada di smartphone/komputer (screen time). Anak menjadi sangat menikmati screen time-nya dan orang tua bisa melanjutkan aktivitasnya tanpa merasa terganggu. Mungkin sekali juga, orang tua merasa senang, anaknya yang belum bisa baca tulis dapat mengoperasikan smartphone/ komputer dengan lancar. Sungguh televisi, komputer, smartphone bisa menjadi baby sitter yang “baik”. Apakah boleh kita sebut saja sebagai e-baby sitter?

Read More
in Artikel
15. 08. 17
posted by: Administrator
GKKB Jemaat Pontianak

Ulang tahun GKKB Jemaat Pontianak yang ke-80 memang sangat menarik dan mengesankan. Tema yang cukup menggelitik pikiran kita sebagai bagian tubuh Kristus, “Dengan Identitas Yang Jelas Membangun Untuk Berkarya.” Apakah karena kita belum berkarya untuk masyarakat sekitar kita sehingga tema ini muncul? Tentu saja tidak. Kita sebagai jemaat, bagian tubuh Kristus, juga melihat banyak hasil karya yang telah dihasilkan oleh GKKB Jemaat Pontianak di luar dari lingkungan jemaat melalui beberapa pelayanan sosial yang sudah berjalan, seperti Panti Asuhan dan Panti Wreda di bawah Yayasan Kasih Bapa dan Sekolah Kristen Immanuel (SKI) di bidang pendidikan. Seiring dengan keberadaan jemaat GKKB Pontianak, maka pelayanan sosial yang mungkin kita sebut yang pertama adalah bidang pendidikan, yaitu melalui Sekolah “Lok Yok” yang kemudian berganti nama menjadi Sekolah Kristen Immanuel (SKI).

Sekolah yang awalnya sangat sederhana dan dengan segala keterbatasan pengelolaan telah memberikan sumbangsih sosial, khususnya pada waktu itu adalah keluarga-keluarga yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah favorit di kota Pontianak. Kita mungkin bisa bercerita bagaimana dengan keterbatasan biaya dan keadaan yang tidak stabil, sekolah ini tetap bisa berdiri, bahkan sampai saat ini. Segi fisik pembangunan demi pembangunan telah dilakukan YGPKB (Yayasan Gereja Protestan Kampung Bali yang menyelenggarakan SKI). Pemeliharaan Tuhan begitu nyata dalam perkembangan SKI. Hal ini dapat kita lihat pada jumlah siswa yang mencapai hampir 7.000 orang, 400-an guru/pekerja, pembenahan organisasi penyelenggara sekolah, dan kerja sama dengan pihak-pihak di luar. Kalau kita menghitung jumlah alumni dari berdirinya SKI tentu sangat banyak. Hal ini membuktikan sekolah ini telah mengambil bagian, atau telah berkarya untuk kemajuan pendidikan di Pontianak dan sekitarnya, bahkan Kalimantan Barat. Lebih lagi, melaluinya banyak jiwa yang mengenal Kristus dalam masa hidup mereka dan banyak juga yang telah mempersembahkan hidup mereka melayani Tuhan sepenuh waktu. Seperti Tuhan Yesus katakan bahwa kamu adalah garam dunia dan terang. Demikian kehadiran SKI telah menjadi garam dan terang dunia.

Read More
in Artikel
15. 03. 10
posted by: Administrator

ApparatusAda orang tua tertentu sudah memberikan les bagi anaknya yang belum usia TK (4-6 tahun). Harapannya tentu agar sang anak bisa segera membaca dan menulis. Harapan ini tentu baik. Namun, apakah itu yang terbaik bagi anak pada usia tersebut? Apakah pemberian les itu sudah sesuai dengan tahapan perkembangan anak? Apakah hal itu akan membuat anak berkembang dengan lebih baik?

Pembelajaran dengan pendekatan Montessori dimulai oleh dr. Maria Montessori. Ia adalah dokter wanita pertama di Italia. Pada tahun 1906, ia mendirikan Casa dei Bambini (Rumah Anak) di Roma. Pendekatan Montessori mengkonsepkan tahapan perkembangan anak berdasarkan sensitive periods (masa peka). Masa peka dapat digambarkan sebagai sebuah pembawaan atau potensi yang akan berkembang sangat pesat pada waktu – waktu tertentu. Potensi ini akan mati dan tidak akan muncul lagi apabila tidak diberikan kesempatan untuk berkembang tepat pada waktunya. Montessori memberikan panduan periode sensitif atau masa peka ini dalam 9 tahapan sebagai berikut:

  • 0 — 3 tahun : masa penyerapan total, perkenalan dan pengalaman sensoris / indra
  • 1,5 — 3 tahun : perkembangan bahasa
  • 1,5 — 4 tahun : perkembangan dan koordinasi antara mata dan otot-ototnya, perhatian pada benda-benda kecil
  • 2 — 4 tahun : perkembangan dan penyempurnaan gerakan-gerakan, perhatian yang besar pada hal-hal nyata, mulai menyadari urutan ruang dan waktu
  • 2,5 — 6 tahun : penyempurnaan penggunaan panca indra
  • 3 — 6 tahun : peka terhadap pengaruh orang dewasa
  • 3,5 — 4,5 tahun : mulai mencorat-coret
  • 4 — 4,5 tahun : indra peraba mulai berkembang
  • 4,5 — 5,5 tahun : mulai tumbuh niat membaca
Read More