Kecanduan smartphone

Perkembangan teknologi berhasil menciptakan berbagai gadget yang sangat menarik. Telepon seluler dan komputer tablet bukanlah barang asing bagi sebagian besar kita. Bahkan anak-anak kecil di bawah 3 tahun juga sudah bergaul akrab dengannya.

Suatu kali, penulis mengantri di sebuah bank. Di sana ada sepasang suami istri bersama putranya yang berusia sekitar 3 tahun. Anak ini begitu lancar mengakses berbagai game yang ada di dalam 2 (dua) ponsel orang tuanya. Anak tidak rewel sekalipun harus antri cukup lama. Di antara kita mungkin juga memiliki pengalaman sedemikian. Anak-anak usia dini sering kali “merepotkan” sang mama yang sibuk memasak. Supaya tidak mengganggu, si anak diberikan tontonan acara televisi, memainkan game yang ada di smartphone/komputer (screen time). Anak menjadi sangat menikmati screen time-nya dan orang tua bisa melanjutkan aktivitasnya tanpa merasa terganggu. Mungkin sekali juga, orang tua merasa senang, anaknya yang belum bisa baca tulis dapat mengoperasikan smartphone/ komputer dengan lancar. Sungguh televisi, komputer, smartphone bisa menjadi baby sitter yang “baik”. Apakah boleh kita sebut saja sebagai e-baby sitter?

Perkembangan otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat sampai usia 3 tahun. Ini adalah kesempatan yang baik bagi orang tua untuk meletakkan dasar yang baik bagi anaknya. Anak yang sudah di atas 3 tahun, bila diberikan screen time maka harus ada pembatasan jam memainkannya/ menonton. Dalam 1 hari screen time diharapkan tidak lebih dari 2 jam. Kalau dapat, anak diizinkan memiliki screen time hanya akhir pekan. Pada usia sekolah anak dapat diajarkan menggunakan gadget untuk menyelesaikan tugasnya, tentu dengan pengawasan orang tua.

Di balik “kebahagiaan” anak usia dini memiliki screen time dan ketidaktergangguan orang tua, sebenarnya ada dampak negatif yang mengintai si anak. Ada beberapa dampak negatif screen time yang perlu kita sadari:

Kecanduan televisi
  1. Screen time sangat didominasi oleh gerak, warna dan suara yang menarik. Anak-anak yang terbiasa dengan rangsangan demikian akan sulit berkonsentrasi saat belajar. Pembelajaran di sekolah atau buku bacaan tentulah tidak semenarik dibandingan dengan rangsangan suara, warna dan gerak dari televisi atau game.
  2. Pada usia dini anak-anak perlu mengembangkan kemampuan motorik kasar maupun halus. Screen time tidak akan mengembangkan kemampuan motorik kasar maupun halus anak. Kemampuan ini sangat penting, misalnya membantu anak belajar memegang pensil, mengoordinasikan gerak antara berbagai anggota tubuh. Tidak mengherankan bila anak-anak yang terbiasa dengan screen time mengalami kesulitan menggenggam sesuatu atau menulis misalnya karena memang tidak terlatih.
  3. Anak bisa jadi malas dan kurang memiliki motivasi untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Hal ini disebabkan anak asyik dengan screen time-nya. Anak bisa juga lalai menyelesaikan tugasnya atau menyelesaikannya secara terburu-buru (sekedarnya) supaya segera bisa mendapatkan screen time-nya.
  4. Memang ada game atau film yang baik, namun ada juga game atau film yang menyebarkan pengaruh 3S (Sex, Sadism, Satan). Pengaruh negatif ini bisa masuk tidak disadari. Hal ini akan membuat sistem nilai di dalam diri anak dan anak menganggap hal-hal demikian sebagai sesuatu yang wajar.
  5. Kemampuan sosio-emosional juga bisa tidak berkembang baik. Anak lebih terbiasa berinteraksi dengan alat. Anak tidak terbiasa mengungkapkan perasaannya secara verbal. Ia juga terbiasa mendapatkan sesuatu secara cepat/instan. Akibatnya anak bisa menjadi moody.
Orangtua yang baik

Untuk menghindari pengaruh negatif dari screen time, orang tua dapat:

  1. Menyediakan permainan yang dapat mengembangkan kemampuan fisik, kognitif maupun sosio-emosionalnya.
  2. Mengatur dan mengawasi screen time anaknya.
  3. Memberikan pemahaman kepada anak mengenai apa yang boleh dikonsumsi dan apa yang tidak boleh.
  4. Menyediakan waktu untuk beraktivitas bersama anak.
  5. Bila orang tua tidak memiliki waktu bersama anak, orang tua dapat membantu anak memilih kegiatan yang positif.

Bagaimanapun keadaan kita, tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan pertama-tama dan terutama ada pada orang tua (bandingkan dengan Ulangan 6:4-9). Kita perlu hikmat agar dapat mengantarkan anak-anak kita menghadapi hidupnya dalam terang Tuhan. Our children don’t need smartphone, but smart parent.

Martin T. Teopilus, M.Pd.
Kepala Departemen Akademik
Yayasan Gereja Protestan Kampung Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *