Inside Out: Warna-Warni Emosi Manusia

Karakter emosi di dalam film inside out

Ketika film Inside Out dirilis dan ditayangkan di AMC Manchester pada pertengahan Juni 2015, beberapa teman sekelas saya, yang sebagian besar adalah pendidik di negaranya masing-masing, mengajak saya untuk menonton film ini. Awalnya saya ragu untuk menerima ajakan tersebut karena ada data penelitian yang harus saya olah dan deadline disertasi saya semakin dekat, namun karena tiket sudah terlanjur dibelikan oleh salah satu teman saya maka saya “terpaksa” ikut menonton – salah satu keterpaksaan yang luar biasa menyenangkan karena film ini mengajarkan saya banyak hal berharga.

Inside Out menceritakan tentang lima tipe emosi yang ada di dalam kepala Riley, seorang anak yang harus pindah dari Minnesota ke California karena pekerjaan ayahnya: Joy (sukacita), Sadness (Kesedihan), Anger (Kemarahan), Fear (Ketakutan), dan Disgust (Kejijikan). Lima emosi ini memberikan gambaran sederhana bagaimana emosi bekerja dalam diri anak berusia 11 tahun yang harus menghadapi tantangan dan perubahan besar dalam hidupnya. Di film kita disuguhkan bagaimana Joy dengan sekuat tenaga berusaha untuk mengontrol pikiran Riley dan menjaga supaya dia terus bahagia dan berusaha menjauhkan emosi lainnya, terutama Sadness, mengambil alih pikiran Riley.

Film ini dibuat berdasarkan pengalaman sang sutradara, Pete Docter, yang harus pindah ke Denmark karena pekerjaan ayahnya. Dia menjadi seorang yang pendiam dan pemalu, dan dia juga melihat putri kecilnya mengalami gejolak emosi yang serupa dengannya. Ide untuk mengangkat kisah bertemakan emosi ini pun muncul. Lalu Pete Docter mengontak dan berkonsultasi dengan dua ahli psikologi terkenal untuk mengembangkan film ini: Paul Ekman, psikolog terkenal yang meneliti tentang emosi manusia, dan Dacher Keltner, professor psikologi dari University of California, Berkeley. Masukan-masukan dari dua orang ahli psikologi inilah yang membuat film ini tidak hanya merupakan film yang secara visual menarik, memiliki alur cerita yang menghibur, tetapi film ini juga sangat ‘mendekati kenyataan’ dalam memvisualisasikan emosi manusia.

Banyak sekali pelajaran yang sangat berharga yang kita (baca: orangtua/pendidik/mentor) bisa pelajari dalam menghadapi perkembangan emosi anak-anak kita. Bahkan, film ini pun memberikan beberapa poin yang bisa kita pikirkan dalam menjalani hidup kita sebagai manusia seutuhnya:

1. Semua tipe emosi ada karena dengan tujuannya masing-masing, dan hidup menjadi lebih berwarna karenanya.

Kelima tipe emosi yang ada di dalam pikiran Riley memiliki karakter dan warna masing-masing: Joy yang periang dan berwarna kuning cerah, Sadness yang selalu murung dan berwarna biru kelam, Disgust si hijau yang apatis, Fear yang berwarna ungu yang gampang panik dan ketakutan, dan Anger si merah yang meledak-ledak (bahkan terkadang kepalanya menyemburkan api). Belum lagi keunikan masing-masing karakter sesuai dengan namanya. Saya merasa warna dan penggambaran karakter yang unik ini secara tersirat mewakili hidup manusia yang seharusnya: berwarna-warni. Justru hidup yang (terlihat) selalu bahagia, seperti yang Joy usahakan, menunjukkan bahwa hidup seperti itu tidaklah sehat, malah cenderung semu dan rapuh. Pulau-pulau kecil yang Joy bangun di dalam pikiran Riley dengan sangat sedikit bantuan dari Fear, Anger, Disgust dan Sadness terbukti rapuh dan monoton. Kita perlu warna-warni yang membuat hidup kita lebih bermakna: kita perlu sosok Fear untuk menjaga supaya kita tetap aman dari hal-hal yang sepertinya berbahaya dan menakutkan, kita perlu sosok Disgust supaya kita lebih menjaga kebersihan, bahkan sosok Anger pun digambarkan sangat berguna untuk mengungkapkan kekesalan-kekesalan Riley.

Orangtua pun bisa belajar bahwa anak memiliki emosi yang berwarna-warni dan kemudian bantulah anak untuk menikmati warna-warni tersebut. Insting orangtua untuk selalu membuat anak bahagia mungkin saja justru menghadirkan perlakuan-perlakuan yang membuat emosi anak tidak berkembang secara utuh. Biarkan anak berkembang tidak hanya lewat kebahagiaan tapi juga lewat kegagalan, kehilangan, dan kemarahan. Biarkan anak belajar lewat pengalaman hidupnya dan membuat dia mengembangkan emosinya secara maksimal. Kita sediakan waktu untuk mendengar, memeluk, menguatkan mereka ketika mereka sedih, mengawasi dan menenangkan ketika mereka marah serta membantu mereka mengendalikan kemarahan, dan turut berbahagia ketika mereka berbahagia. Dukungan seperti itu jauh lebih sehat daripada terus mengusahakan kebahagiaan anak seperti yang Joy lakukan dan akhirnya gagal.

2. Jangan takut bersedih!

Sadness dan BingBong

Di beberapa adegan film ini, Joy terus-menerus mencoba untuk ‘menyingkirkan’ Sadness. Akibatnya, meskipun Riley bisa merasakan emosi yang lain, ketidakmampuannya untuk merasakan kesedihan ditambah paksaan mamanya untuk terus bahagia menjadikan Riley anak yang murung dan apatis. Sampai menjelang akhir film ini akhirnya Joy sadar dan membiarkan Riley merasakan kesedihan sehingga Riley berani terbuka menceritakan kesedihannya kepada orangtuanya. Keterbukaan atas kesedihan ini membuka mata orangtua Riley bahwa anak mereka memerlukan bantuan, yang justru pada akhirnya membuat keluarga ini saling mendukung dan menghadirkan kebahagiaan yang lebih besar.

Salah satu adegan menarik yang membuat saya merenung adalah ketika roket milik Bing Bong, teman khayalan Riley di masa kecil, dimusnahkan. Joy berusaha menghibur dengan keceriaannya namun gagal membahagiakan Bing Bong. Menariknya, Sadness yang paham kesedihan Bing Bong hanya duduk di sebelahnya dan berempati dengan mendengar keluh kesahnya. Ajaib, Bing Bong langsung menangis dan setelah itu langsung bangkit merasa lebih baik! Dari adegan yang berdurasi sekitar dua menit ini, saya mendapatk an pembelajaran yang sangat berharga: Ada kalanya teman atau anak kita berada di dalam kesedihan mendalam dan kita mungkin tidak punya kemampuan untuk memahami permasalahan mereka, alih-alih menghibur mereka. Tetapi mungkin kehadiran kita dan kesediaan kita memberi telinga untuk mendengar keluh kesah mereka membuat mereka merasa lebih baik dan justru membantu mereka bangkit dengan kemampuan mereka sendiri.

Semua orangtua pasti tidak ingin anaknya bersedih. Tapi, apa yang kemudian Anda lakukan? Apakah langsung bersikap protektif dan menyelamatkan mereka dari jurang kesedihan dengan berbagai tindakan untuk membahagiakan mereka? Atau membantu mereka belajar dari pengalaman yang tidak menyenangkan ini? Mungkin peran yang kedua inilah yang perlu kita ambil. Tidak mudah memang, tapi kita harus ingat bahwa kesedihan merupakan bagian hidup manusia, dan anak pasti akan mengalami kesedihan dalam hidupnya. Tanpa kesedihan dan kegagalan, anak tidak terbiasa bangkit dari keterpurukan dan menjadi lebih tahan uji. Mengutip perkataan Tamar Chansky , seorang psikolog terkenal, “We have to remember that when our kids are sad, it’s not something that’s wrong, it’s something that’s real.” (kita harus ingat bahwa ketika anak kita sedih, itu bukan hal yang salah, itu adalah hal yang wajar). Tugas kita sebagai orangtua adalah hadir dan mendukung anak ketika dia sedih supaya anak bisa belajar dan bangkit dari kesedihannya.

3. Pada akhirnya, hidup ini tidak melulu tentang happy – happy

Di akhir film, Joy menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah melulu tentang bersukacita seperti yang dia inginkan di awal film ini. Ketika dia merelakan emosi yang lain mengambil peran dalam hidup Riley, justru Riley terlihat meraih dan menemukan makna kebahagiaan yang lebih mendalam. Hal ini merefleksikan beberapa penelitian tentang kebahagiaan. Sonja Lyubomirsky, penulis buku How of Happiness, mengartikan kebahagiaan sebagai “mengalami sukacita, kepuasan, atau kelakuan yang positif, dikombinasikan dengan kesadaran bahwa hidup itu baik, berarti, dan berharga” Jadi, walaupun sukacita merupakan elemen yang penting dalam hidup yang berbahagia, itu bukanlah satu-satunya hal yang menentukan kebahagiaan. Lebih jauh, sebuah penelitian menemukan bahwa manusia yang merasakan berbagai jenis emosi dalam hidupnya (dalam penelitian tersebut disebut sebagai “emodiversity” ) baik yang menyenangkan maupun menyedihkan, cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Para peneliti ini menyimpulkan bahwa kemampuan merasakan berbagai jenis emosi dalam hidup membuat manusia lebih cepat tanggap dalam merasakan hal-hal yang terjadi di sekitarnya sehingga mereka bisa bereaksi dengan lebih tepat dan cenderung memiliki tingkat kebahagiaan hidup yang lebih tinggi.

Memaksakan hidup untuk terus menerus bahagia justru berpotensi menghadirkan bencana dalam hidup. Gruber dalam esainya menyatakan bahwa semakin seseorang menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir (dan satu-satunya) hidupnya, semakin orang itu akan memasang standar kebahagiaan yang lebih tinggi dalam hidupnya, dan akhirnya merasa kecewa jika tidak berhasil mencapai kebahagiaan yang diidam-idamkannya. Di dalam film ini pun, ketika Riley memaksakan dirinya untuk terus bahagia namun akhirnya dia gagal sehingga dia merasa tertekan. Strateginya untuk selalu bahagia justru gagal membawa kebahagiaan dalam hidupnya, membuat dia menjauh dan marah terhadap orangtuanya, dan pada akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah.

Dari film ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa hidup manusia, terutama anak-anak, tidaklah melulu harus diisi dengan hal-hal yang bertema kebahagiaan saja. Membiarkan anak berkembang seutuhnya lewat pengalaman-pengalaman yang membantu mereka mengembangkan emosi mereka secara seimbang justru menghadirkan hidup yang lebih bahagia dibanding memaksakan kebahagiaan secara terus menerus dalam hidup. Seperti puisi “The Guest House” (Rumah Singgah) yang ditulis oleh Rumi yang menggambarkan berbagai emosi hadir ke dalam kehidupan manusia seperti tamu-tamu yang datang silih berganti ke rumah singgah membawa pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda. Begitulah seharusnya juga kehidupan emosional manusia.

Saran terakhir saya jika anda ingin menonton film ini: siapkan tissue! This movie is an absolute tear-jerker! I warn you!

William Sandy, S.Pd, M.A.
Staf Departemen Akademik
Yayasan Gereja Protestan Kampung Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *