Ketika Orang Tua Tidak Lengkap

Pernikahan Kristen menjunjung tinggi pernikahan monogami sampai maut memisahkan. Akibatnya orang langsung mencibir ketika mendengar kisah seorang single parent yang membesarkan anak tanpa orang tua lengkap, apalagi jika disebabkan oleh perceraian. Namun, tidak bisa dipungkiri terjadi situasi dalam pernikahan Kristiani yang berakhir dengan perpisahan. Dampak terbesar dialami oleh pasangan yang ditinggalkan. Di balik itu, terdapat dampak terselubung yang jarang disadari terletak pada psikologis sang anak. Usia anak yang lebih kecil membuat orang tua merasa bahwa anak tidak perlu tahu apa-apa sehingga anak tumbuh dalam kebingungan tanpa mendapatkan jawaban yang memuaskannya sehingga memunculkan kemarahan dalam menjalani hidup. Akibat lainnya dapat mempengaruhi relasi dengan orang lain.

Ada dua situasi utama yang membuat orang tua tidak lengkap, yaitu salah satu orang tua meninggal atau terjadi perpisahan.

KETIKA PASANGAN MENINGGAL DUNIA

Jauh lebih mudah memberitahukan kepada anak bahwa orang tua tidak lengkap karena salah satu orang tua meninggal dunia. Walaupun demikian, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi rasa kehilangan, yaitu:

  1. Ceritakan. Ceritakan sesuai pemahaman anak mengenai penyebab kematian dan di mana mendiang berada sekarang: jasadnya sudah dikubur, rohnya kini bersama Tuhan dan kenangannya selalu ada di hati anda dan anak anda.
  2. Buat momen perpisahan. Mulailah dengan mengungkapkan perasaan pribadi kemudian tanyakan kepada anak mengenai perasaannya. Bahaslah bersama bagaimana mengatasi perasaan tersebut. Rasa sedih dan kehilangan dapat diungkapkan dengan tangisan, sedangkan rasa bersalah yang tersisa dapat diungkapkan dengan perkataan minta maaf kepada mendiang. Akhirilah momen tersebut dengan saling memeluk dan ucapan seperti “Kita akan bisa melalui ini bersama”.
  3. Saling bercerita mengenai pengalaman berkesan bersama mendiang. Tidak ada salahnya ketika mengingat suatu kejadian bersama mendiang kemudian mengungkapkannya. Hal tersebut lebih baik daripada mengingkari dan memendamnya. Namun buatlah perjanjian, di mana dan pada siapa perasaan itu dapat diungkapkan. Misalkan hanya boleh diceritakan saat berada berdua menjelang tidur. Yang penting bahwa tidak boleh membandingkan mendiang dengan anggota keluarga yang masih hidup. Hindari perkataan seperti “Kalau mama masakannya enak tapi masakan papa tidak enak, tidak seperti punya mama!!!”
  4. Ingatkan. Ingatkan bahwa mendiang tentunya tidak ingin melihat anggota keluarganya terus berduka. Jadi buatlah rencana masa depan dan fokuskan untuk menjalani kehidupan sebaik-baiknya.
  5. Jelaskan secara terbuka jika ingin menikah dengan orang lain. Beritahukan kepada anak bahwa pernikahan yang akan dijalani berikutnya bukan sebagai perasaan tidak mencintai, namun karena melihat ke masa depan.
Broken Parenthood

KETIKA PERPISAHAN TIDAK TERELAKKAN

  1. Berdamai. Walaupun rasanya sangat menyakitkan, terimalah bahwa perpisahan telah terjadi. Dalam buku diary, Anda dapat menuliskan perasaan terdalam yang ada. Atau ucapkanlah dalam doa perasaan Anda dan harapan Anda berikutnya. Usahakan perdamaian dengan pasangan dengan memaafkan dan menyelesaikan semua urusan. Kemudian hindari mengungkit kenangan buruk yang pernah terjadi.
  2. Ceritakan dengan jujur. Anak berhak tahu mengenai apa yang terjadi, tentunya pemahaman diberikan sesuai dengan usia anak. Pada anak balita, sampaikan bahwa papa dan mama sudah berpisah – papa terkadang boleh bertemu dengan anak – jika ada yang bertanya, sampaikan status mama sebagai single parent. Untuk anak remaja, dapat diceritakan lebih kompleks bagaimana papa dan mama pernah mencintai namun perpisahan menjadi jalan yang lebih baik agar tidak saling menyakiti. Di balik itu ada harapan agar anak dapat belajar untuk memiliki sikap yang lebih bijak terutama dalam memilih pasangan.
  3. Hindari kebencian. Tentunya pasangan yang telah pergi meninggalkan memiliki sisi positif sehingga pasangan tersebut dapat memiliki anak. Sampaikan sisi positif tersebut dan hindari menyebarkan kebencian. Anak dapat menangkap rasa benci yang ditunjukkan di mana dampaknya dapat berbahaya seperti muncul rasa sinis terhadap jenis kelamin orang tua yang meninggalkannya, perilaku membantah, bahkan dapat menjurus ke perilaku homoseksual.
  4. Bekerja sama dengan anggota keluarga lain. Jika mengasuh anak bersama anggota keluarga lain, kompaklah untuk melindungi anak tanpa harus mengungkit kesalahan orang tuanya.
  5. Cintai anak. Saat ini yang Anda miliki adalah anak. Hindari untuk membalas perasaan negatif kepada anak namun berusahalah untuk memperbaiki situasi dan berusaha mewujudkan masa depan yang baik.

Verty Sari Pusparini, M.Psi.
Koordinator Konseling
Yayasan Gereja Protestan Kampung Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *