Sekolah Kristen Immanuel: Sebuah Karya Jemaat GKKB

GKKB Jemaat Pontianak

Ulang tahun GKKB Jemaat Pontianak yang ke-80 memang sangat menarik dan mengesankan. Tema yang cukup menggelitik pikiran kita sebagai bagian tubuh Kristus, “Dengan Identitas Yang Jelas Membangun Untuk Berkarya.” Apakah karena kita belum berkarya untuk masyarakat sekitar kita sehingga tema ini muncul? Tentu saja tidak. Kita sebagai jemaat, bagian tubuh Kristus, juga melihat banyak hasil karya yang telah dihasilkan oleh GKKB Jemaat Pontianak di luar dari lingkungan jemaat melalui beberapa pelayanan sosial yang sudah berjalan, seperti Panti Asuhan dan Panti Wreda di bawah Yayasan Kasih Bapa dan Sekolah Kristen Immanuel (SKI) di bidang pendidikan. Seiring dengan keberadaan jemaat GKKB Pontianak, maka pelayanan sosial yang mungkin kita sebut yang pertama adalah bidang pendidikan, yaitu melalui Sekolah “Lok Yok” yang kemudian berganti nama menjadi Sekolah Kristen Immanuel (SKI).

Sekolah yang awalnya sangat sederhana dan dengan segala keterbatasan pengelolaan telah memberikan sumbangsih sosial, khususnya pada waktu itu adalah keluarga-keluarga yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah favorit di kota Pontianak. Kita mungkin bisa bercerita bagaimana dengan keterbatasan biaya dan keadaan yang tidak stabil, sekolah ini tetap bisa berdiri, bahkan sampai saat ini. Segi fisik pembangunan demi pembangunan telah dilakukan YGPKB (Yayasan Gereja Protestan Kampung Bali yang menyelenggarakan SKI). Pemeliharaan Tuhan begitu nyata dalam perkembangan SKI. Hal ini dapat kita lihat pada jumlah siswa yang mencapai hampir 7.000 orang, 400-an guru/pekerja, pembenahan organisasi penyelenggara sekolah, dan kerja sama dengan pihak-pihak di luar. Kalau kita menghitung jumlah alumni dari berdirinya SKI tentu sangat banyak. Hal ini membuktikan sekolah ini telah mengambil bagian, atau telah berkarya untuk kemajuan pendidikan di Pontianak dan sekitarnya, bahkan Kalimantan Barat. Lebih lagi, melaluinya banyak jiwa yang mengenal Kristus dalam masa hidup mereka dan banyak juga yang telah mempersembahkan hidup mereka melayani Tuhan sepenuh waktu. Seperti Tuhan Yesus katakan bahwa kamu adalah garam dunia dan terang. Demikian kehadiran SKI telah menjadi garam dan terang dunia.

Kita bersyukur, YGPKB telah berusaha seoptimal mungkin mengembangkan SKI. Di sinilah dibutuhkan partisipasi dari seluruh pemimpin gereja, pengurus YGPKB, keluarga besar GKKB Pontianak dan SKI. SKI ke depan adalah SKI yang terus berkembang dan berkarya bagi pendidikan di Kalbar dan Indonesia. Dengan wawasan Alkitabiah, SKI bisa berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai wujud tanggung jawab warga negara dan warga gereja terhadap pendidikan. Walaupun karya yang kita lakukan tidak besar, tetapi boleh menjadi satu wujud nyata yang bisa dirasakan. Mantan Ketua YGPKB, dr. Suryat Thedra Lie mengungkapkan bahwa pengembangan SKI harus berpusat pada 3 nilai inti (3 core value), yaitu:

Pertama, BI (Bible Integration/Integrasi Alkitab) di mana seluruh rangkaian pelayanan optimal didasarkan pada wawasan Alkitabiah, nilai-nilai Alkitab dinyatakan dalam seluruh komponen SKI, baik Pengurus Yayasan, Badan Eksekutif, Pimpinan Unit, Koordinator IBC, para Guru, para Staf dan Karyawan. Dengan BI, SKI sungguh-sungguh menjadi sebuah sekolah dengan nafas Kristiani yang memiliki ciri khas Kristiani yang hidup dan nyata. Dengan kata lain, kita memiliki konsep Kristus dalam Pendidikan (Christ in Education), yaitu proses yang menyiapkan seseorang untuk menjalani hidupnya dengan menggunakan semua elemen baik guru, murid, isi pelajaran, filosofi, tujuan, penilaian, lingkungan, dan lain – lain, semuanya berhubungan dengan Kristus, dan ditransformasi oleh Kristus.

Saat ini, kita sudah mulai mengadakan pembinaan secara khusus dalam pemahaman firman Tuhan di setiap lini, dari pengurus yayasan, badan eksekutif yayasan (BE), pimpinan Unit atau koordinator IBC, para guru, para karyawan, staf administrasi, dan para siswa. Kegiatan pembinaan pemahaman firman Tuhan yang teraplikasikan dalam hidup pribadi, diharapkan akan mewarnai kehidupan kerohanian setiap unsur yang ada di SKI. Dua tahun lalu, tahun 2013 kita sudah mulai dengan modul Educare, yang memfokuskan pembelajaran firman Tuhan bagi pegiat pendidikan, dan bukan hanya teori, bukan kebenaran firman Tuhan yang abstrak saja yang dipelajari, tetapi ada tuntutan mempraktikkan kebenaran firman Tuhan di kelas-kelas pengajaran, di dalam kegiatan-kegiatan hidup sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah.

Kedua, IT (Information Technology/Teknologi Informasi), semua pelayanan yang dilakukan bisa mengoptimalkan penggunaan IT, baik dalam organisasi sekolah maupun dalam pengelola kegiatan pembelajaran, IT menjadi salah satu yang bisa mendukung dan menjadi sarana yang efektif dalam informasi dan pengembangan sekolah. Tahun ini, 2015, telah ada rancangan atau program untuk pembenahan IT di seluruh SKI. Yayasan telah menyiapkan dengan baik mulai dengan anak-anak Tuhan yang bertalenta dan berketrampilan dalam bidang ini, mereka ditunjuk dan bersedia menyiapkan semua perangkat yang dibutuhkan baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) untuk penerapan dari IT di SKI. Ini juga merupakan salah satu langkah memandang ke depan dan melihat perkembangan di era yang akan datang.

Yang terakhir, CV (Chinese Value = nilai-nilai keTionghoaan), ciri khas dari SKI adalah adanya unsur Tionghoa yang kuat, nilai-nilai tradisi yang sesuai dengan firman Tuhan, filosofi hidup yang tidak bertentangan dengan nila-nilai Alkitab, yang dikembangkan melalui budaya dan seni, serta etos kerja dan filosofi hidup yang baik tercermin dalam SKI. Budaya Tionghoa juga merupakan salah satu kekayaan yang Tuhan berikan kepada bangsa Indonesia. Budaya yang unik ini dan hanya di wilayah Asia Tenggara, dan khususnya di Indonesia, lebih spesifik di Kalimantan Barat, tentu akan menambah wawasan setiap siswa yang belajar di SKI. Pemahaman budaya juga akan menolong setiap kita melihat akar dari suatu bangsa. Kita tahu, Tuhan memberikan mandat budaya kepada setiap manusia, dan kita sebagai umat Allah haruslah melaksanakan mandat budaya melalui pendidikan. Kita telah mulai mengembangkan melalui peningkatan pemahaman bahasa Mandarin, kelas-kelas budaya tentang Tiongkok, dan khusus perkenalan budaya Tionghoa melalui wadah musik tradisional Tiongkok, yang di Immanuel diberi nama Musik Oriental Immanuel (MOI).

Dengan ketiga nilai inti, kita berdoa dan bekerja untuk mewujudkan Sekolah Kristen yang sungguh-sungguh memiliki khas yang membangun pendidikan yang ada di Pontianak dan Kalimantan Barat.

Keberlangsungan sekolah ini tidak hanya tergantung kepada segelentir orang yang peduli, tetapi tergantung sepenuhnya pada anugerah Tuhan yang akan menggerakkan Jemaat Tuhan yang peduli pelayanan pendidikan, yang peduli dengan karya nyata bagi masyarakat melalui pendidikan. Jemaat bisa memberikan sumbangsih yang besar bagi keberlangsungan SKI. Kita mungkin bertanya, kalau begitu apa yang bisa saya lakukan? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk terlibat di ladang pelayanan “berkarya” ini.

Pertama, Kita menyediakan lutut

Doa orang benar besar kuasanya. Berdoalah senantiasa dan ucaplah syukur di dalam Tuhan, naikkan syafaat di hadapan Tuhan, demikian diungkapkan rasul Paulus kepada jemaat. Kita juga perlu menyediakan lutut kita, berdoa di hadapan Tuhan, memohon hikmat dari Tuhan untuk setiap jemaat dan orang-orang yang berkarya dalam bidang Doa tidak mengubah rencana Tuhan bagi SKI, tetapi doa mengubah cara memandang “ladang misi” (baca SKI) ini, dan mengerakkan kita ikut terlibat, dan menumbuhkan rasa peduli kita.

Kedua, Kita menyekolahkan saudara/anak/cucu kita di SKI

Ini adalah partisipasi langsung yang bisa Jemaat lakukan. Kita mempercayakan generasi berikutnya dididik di SKI, sekolah kita sendiri, sehingga mereka bisa bertumbuh menjadi pewaris iman Kristiani dan memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni dan dipakai oleh Tuhan. Kita juga memberikan contoh dan menunjukkan rasa memiliki, serta percaya bahwa kita memiliki SKI, dan SKI mempunyai kualitas yang baik. Selain itu, pembinaan dalam hal intelektual dan spiritual menjadi hal yang utama, sehingga di sekolah yang dikelola oleh jemaat kita tentu akan lebih meyakinkan. Kesinambungan antara apa yang gereja ajarkan dan SKI ajarkan akan membantu pertumbuhan rohani anak-anak kita. Sudah Jemaat mengambil bagian ini? Kalau sudah, lanjutkan. Tetapi kalau belum Jemaat bisa segera mengambil bagian partisipasi ini.

Ketiga, Kita mengambil bagian pelayanan di ladang misi ini

Kita bisa memberikan sumbangsih melalui karunia dan kerinduan yang Tuhan berikan kepada kita, apakah kita menjadi guru, pegawai, staf di SKI, atau mungkin kita hanya ingin terlibat paruh waktu (part time) menjadi pembina-pembina kelompok kecil di kelas-kelas pembinaan karakter siswa. Setiap Jemaat tentu memiliki karunia-karunia. Gereja juga sudah membuka ruang untuk pembinaan bagi orang-orang yang akan melayani. Kita berharap ini menjadi sebuah kesinambungan di mana, anak-anak Tuhan, jemaat sekalian yang sudah Tuhan berikan hikmat bijaksana– dapat secara langsung menjadi bagian dari pelayan-pelayan di SKI.

Berkaitan dengan core value yang pertama, yaitu BI, tentu akan sangat membutuhkan banyak pimpinan, guru, staf dan pegawai yang memiliki pemahaman firman Tuhan yang baik, kehidupan rohani yang bertumbuh, dan kerinduan melayani Tuhan.

Akhirnya, seperti kata penulis Amsal, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6), dan “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (Amsal 29:17) Mari kita berkarya melalui wadah SKI ini bagi kemuliaan nama Tuhan.

Pdt. Seniman
Kepala Departemen Kerohanian
Yayasan Gereja Protestan Kampung Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *